Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…
Hari ini… saya catat sudah 3 kali harus merombak total modul yang telah mulai saya bangun sekira enam bulan yang lalu… Mungkin beginilah yang harus dilalui oleh setiap developer aplikasi apabila memasuki dunia kolaborasi. Atau mungkin saya yang terlalu bodoh mengambil jalan trial and error, namun tidak mencoba memahami dulu semua kerangka dan bentuk-bentuknya. Tapi begitulah saya… pengalaman dari nol selalu saya lalui dengan “learning by doing” mengikuti sejauh mana kebutuhan dan problema yang mampu saya tangkap saat itu, saya harus mempertahankan momentum supaya semangat tetap terbakar.
Perubahan awal terjadi karena sudut pandang pembuatan struktur database sebagai pondasi aplikasi yang akan saya buat masih sangat sempit. Saya terinspirasi dari kata-kata milo /* antitrust the movie */, “the answer is in the band, not in the box”. Sebelumnya saya hanya berpikir dalam kotak saya sendiri, padahal berurusan dengan data yang besar tentunya kita tidak bisa memaksakan untuk merangkumnya semua dalam satu database, namun bisa jadi terpisah-pisah yang saling berhubungan. Alhamdulillah… ilmu itu masih saya pegang sampai saat ini. Jadi tidak masalah struktur data terpisah dalam beberapa database server, bahkan mesinnya sekalipun, yang penting masih bisa berkomunikasi.
Perubahan kedua membuka mata dan pikiran saya bahwa dunia web memang benar-benar luar biasa perkembangannya. Pada waktu saya pusing memikirkan bagaimana menghubungkan database saya dengan database aplikasi lain dalam box yang lain, apalagi terpisah pada jarak yang jauh ? Masihkah saya memaksakan untuk membuka port agar pihak luar (walaupun perlu izin khusus) untuk menghubungi langsung database saya ? Saat itu juga Allah menunjukkan betapa internet sekarang ini sudah memasuki era networked world, di mana banyak aplikasi web yang notabene berbeda framework dan arsitektur, juga terpisah dari mesin yang berbeda-beda dalam jarak yang juga sangat jauh, masih bisa berbagi informasi yang memasuki ranah prosedur atau aturan internnya. Kita lihat facebook share, twitter, dan lain-lain. Dari sinilah saya mengenal istilah “web service”. Ternyata kita bisa berbagi data melalui format file yang fleksibel, seperti xml, csv, atau apa saja yang mudah untuk diolah kembali, luar biasa /* pikir saya */ So… selamat tinggal multi database ! Biar framework yang mengatur komunikasi, database tetap di belakang layar dan harus benar-benar terlindungi dalam “localhost” saja.
Sekarang perubahan ke tiga…
Drupal… benar-benar membuka wawasan saya, bagaimana saya harus berhubungan dengan banyak orang yang berbeda latar belakang, bahkan secara personal mungkin saya tidak akan pernah mengenal mereka, sementara saya harus bisa bekerja dengan irama mereka. Framework tidak hanya ditujukan untuk mempercepat pengembangan saja, namun lebih besar dari itu kita harus berpikir bagaimana dengan apa yang telah kita buat ini, masih akan tetap bisa “hidup” walaupun kita sendiri suatu saat akan mati atau mengakhirinya ? Lho ? Kok hidup ? ya… itu istilah saya untuk menggambarkan bahwa betapa karya yang luar biasa harus bisa diteruskan atau paling tidak menginspirasi orang-orang yang meneruskan apa yang telah kita rintis. Apa yang saya sadari saat ini adalah menjadi pengikut itu sendiri, di mana harus mampu memahami apa yang telah dibangun oleh orang lain.
Well… singkatnya saya mulai berpikir merubah struktur database lagi, di mana dulu harus menciptakan tabel sesuai dengan sudut pandang sendiri /* karena itu yang paling mudah */ dengan konsekuensi saya harus memutar otak untuk mengintegrasikan dengan semua fitur yang telah secara default ada dan dilayani secara otomatis. Contohnya adalah “search” ! Tanpa mengikuti pola pikir orang lain dalam komunitas framework tersebut, mustahil kita bisa mudah menambahkannya pada modul kita, kecuali kita bersusah payah meng-coding sendiri dengan berulang-ulang. So… sadarlah akan “node” itulah content yang sebenarnya yang dimiliki oleh drupal !
Begitulah perubahan demi perubahan bahkan yang ekstrim sekalipun harus saya jalani, bukan saja untuk menyempurnakan apa yang akan saya buat, namun juga melatih saya untuk terbiasa bekerja di lingkungan orang lain. Sampai saat ini saya meyakini, bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, melainkan Allah saja, pun demikian dengan yang katanya “maha karya” seorang atau sekelompok manusia. Untuk itulah saya yang sudah nawaitu berkiprah di dunia developer aplikasi berbasis web sekira 7 tahun yang lalu ingin bisa menyelami framework yang beragam, atau secara kias bisa menyelami lingkungan yang berbeda-beda. Tidak ada frmaework yang paling baik di dunia ini, semua sifatnya subyektif, kalaupun ada klaim atau semacam awards, itupun juga sangat subyektif menurut saya. Tergantung siapa dan untuk apa framework itu dibangun, juga sesuai dengan komunitas yang mendukungnya.
Selayaknya bertetangga, dan bersosialisasi, tentunya kita tidak bisa menang sendiri atau menganggap bahwa kita yang harus menjadi pusatnya. Karena kita sejatinya adalah salah satu bagian saja sebuah entitas, tidak lebih ! Hanya saja peran yang kita mainkan berbeda dengan bagian yang lain, namun saling berhubungan. Pun demikian bila kita sebagai developer mulai masuk ke dalam dunia pemrograman berbasis framework tertentu. Wajib hukumnya untuk mengenal budaya di dalamnya, bagaimana suatu metode dijalankan agar yang kita lakukan bisa berjalan beriringan dengan harmonis, apapun jenis dan type framework tersebut. Keberhasilan kita dalam meraih sasaran adalah keberhasilan kita untuk merasakan sejuknya hembusan angin dalam dunia tersebut, dan keselarasan irama kita dengan seluruh ritme harmoni yang tercipta dari semua anggota komunitasnya. Pun pastinya adalah izin dari Allah sehingga kita mempunyai kesempatan untuk mengecapnya.
Ini adalah hal yang baru dan besar sekaligus bagi saya. Bagi Anda yang belum pernah merasakannya, maka saya informasikan bahwa dunia ini sungguh menyenangkan karena kita belajar untuk mengenal orang lain dari caranya menghasilkan solusi dalam usaha pemecahan segala masalah programming, yang mana, mungkin kita sendiri belum mampu menemukannya. Ingatlah teknologi itu berkembang selayaknya kreativitas manusia, maka berkolaborasi itu hal yang jauh lebih baik daripada bekerja sendiri dengan sudut pandang sendiri. Selamat berselancar dan nikmati iramanya…
Wallohuta’ala a’lam
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Filed under: Drupal, Uncategorized

