Denic Wibowo

Hiduplah dengan sebanyak-banyaknya memberi bukan sebanyak-banyaknya menerima

Salut kepada Pak Polisi

Makassar, 23 Juli 2011 menjelang dhuhur, saya mengalami peristiwa kecelakaan di pertigaan jalan pettarani dan boulevard panakkukang. Alhamdulillah saya tidak mengalami cidera, hanya bagian depan motor saya saja megalami lecet sedikit dan plat nomor bengkok. Kejadian ini terjadi karena ada pengendara motor yang tiba-tiba meluncur dari arah kanan saya hendak menuju ke jalan boulevard memotong jalur dari arah pettarani. Seperti yang saya takutkan biasanya, di jalanan paling saya waspadai adalah pengendara motor atau mobil seorang wanita, yang biasanya tidak berpikir panjang. Alhamdulillah hari ini saya dipertemukan dengan kejadian kecelakaan ini, sehingga mengingatkan kepada saya akan beberapa kesalahan dan kekhilafan saya beberapa waktu sebelumnya.

Sebenarnya bukan peristiwa kecelakaan ini yang ingin saya bagi ceritanya di sini. Namun adalah sikap dan tindakan seorang Polisi lalu lintas yang sungguh di luar dugaan saya. Pada waktu itu saya sudah pasrah apapun yang terjadi, di lain hal saya memang sedang buru-buru mengejar waktu dhuhur supaya bisa mengikuti sholat berjamaah di masjid dekat rumah, namun di sisi lain (dalam hati), saya harus bersabar menunggu waktu untuk berurusan dengan Pak Polisi, apabila mereka sempat menghampiri di TKP tersebut. Jadi saya harus siap kehilangan kesempatan sholat dhuhur berjamaah.

Motor saya biarkan dalam keadaan tergeletak dan masih lengket dengan motor penabrak saya. Saya hanya mengucapkan “astaghfirulloh” berungkali, tidak mampu saya mengumpat untuk menyalahkan penabrak tersebut. Saya hanya ingat akan kesalahan saya, mungkin saya terlalu buru-buru sehingga diberi peristiwa ini oleh Allah SWT. Istighfar terus, sampai akhirnya saya kaget, tiba-tiba disamping saya telah berhenti seorang polisi dengan sepeda motor besar (sporty). Tidak ingat model motornya. Perawakannya tidak terlalu besar, namun tinggi, wajahnya kelihatan masih muda, mungkin lebih muda dari saya dan tidak berkumis seperti kebanyakan polisi lalu lintas yang sering saya temui.

Terbersit di hati saya, alamat nich urusan jadi panjang kalau ada polisi, karena pengalaman sebelum-sebelumnya kalau terjadi kecelakaan, walaupun sebenarnya bisa diselesaikan dengan cepat. Saya pasrah, sudah biarlah… yang terjadi biarlah terjadi. Pak Polisi langsung membantu mendirikan motor saya dan bertanya kepada saya, “Bapak tidak apa-apa ? Ada yang terluka Pak ?” dan saya jawab “Tidak Pak… tidak apa-apa saya”. Lalu beliau juga menolong si wanita yang menabrak saya tersebut, dan menanyakan kondisinya seperti pertanyaan kepada saya. Alhamdulillah Mbak-nya itu juga tidak luka sedikitpun, dan motornya hanya lecet sedikit sama seperti motor saya. Saya sempat melihat sekilas wajahnya agak ketakutan, mungkin karena merasa bersalah. Di luar dugaan, Pak Polisi itu langsung meminta kepada kami untuk meneruskan perjalanan, beliau mengatakan “Ya sudah nggak papa… silahkan jalan Pak…” dan langsung tancap sepeda motornya menghilang dari pandangan kami.

Kami pun tidak berniat memperpanjang persoalan ini, dan saling memaafkan, menyadari kesalahan masing-masing. Sepanjang perjalanan saya berpikir, aneh… Pak Polisi biasanya “ma’af, sesuai pengalaman saya sebelumnya” sangat bernafsu bila melihat kejadian buruk yang menimpa pengguna jalan raya, sehingga menambah derita dengan mencari-cari kesalahan. Namun kali ini, saya salut dengan tindakan Bapak Polisi tersebut. Mungkin cukup peringatan Allah saja yang sampai kepada kami yang berperkara, lalulintas kembali normal, dan derita kami tidak sampai berlarut-larut. Coba seandainya saat itu beliau mengambil tindakan untuk mencari kesalahan kami, menanyakan surat-surat kami (saya sich pede, karena Insya Allah lengkap). Maka waktu saya akan terbuang, dan ketinggalan satu amalan yang utama, yaitu mendirikan sholat dhuhur berjamaah. Mungkin juga akan mengurangi isi dompet saya yang memang sudah kempes.

Alhamdulillah… ternyata Bapak Polisi itu bijaksana, dengan memaafkan kami dan tidak menambah masalah kami. Jujur… akhir-akhir ini saya sangat muak melihat citra POLRI, terutama kiprah salah satu kesatuannya, DENSUS 88. Mereka sering menyakiti hati umat islam. Tidak mampu memerangi koruptor, apalagi melakukan interospeksi internalnya seperti pada kasus rekening gendut beberapa pimpinan mereka. Namun dengan tindakan bijaksana salah satu petugas lalu lintas kali ini, sungguh sangat saya apresiasi. Sebagai seorang rakyat kecil, saya berharap semoga tulisan ini bisa menjadi sharing apa yang saya rasakan, dan dibaca oleh teman-teman saya, serta menjadi bukti bahwa saya masih bisa menghargai mereka yang berhati mulia. Cukuplah tindakan beliau mewakili bagian lembaga itu dalam sebuah kebaikan. Alhamdulillah…

Semoga kelak institusi itu hanya diisi oleh orang-orang bijak seperti Bapak itu, dan kesatuan arogan seperti densus 88 terhapus selamanya dari muka bumi, sehingga hanya menjadi sejarah hitam institusi POLRI. Sebenarnya masih banyak mungkin yang baik di sana, tapi karena ulah salah satu kesatuan itu yang buruk, maka rusaklah seluruh citra institusi tersebut. Semoga masih ada orang-orang yang bijaksana, melakukan tindakan yang tepat, atau setidaknya tidak menambah “derita” rakyat yang tertimpa musibah.

Satu pelajaran bahwa kadang memang kita dituntut untuk bisa cepat memutuskan yang terbaik. Kalau penyelesaian perkara sesuai prosedur biasa malah menambah masalah, seperti kemacetan, dan lain-lain, maka tindakan bijaksana tadi bisa dicontoh. Toh tidak ada yang dirugikan, kalau untuk memberi peringatan kepada yang bersalah, ya cukup disampaikan saja, Pak.. Mbak.. Bu… kalau bisa naik motornya hati-hati, jangan asal nyelonong, karena bisa membahayakan pengguna jalan yang lain. Insya Allah bisa diterima dan menjadi pelajaran bagi yang bersangkutan. Karena peristiwa kecelakaan itu sendiri juga sudah menjadi peringatan keras dari Allah SWT yang cukup menggoncangkan hatinya (menurut saya sich). Tidak usahlah sampai dilakukan tilang segala, apalagi menakut-nakuti pihak yang sudah tertimpa musibah, sehingga muncul penawaran bahwa sidang bisa diwakilkan kok Pak, tinggal bayar dua puluh ribu saja :D kekeke… (seperti pengalaman saya dulu pada peristiwa yang mirip).

Suer… semoga Bapak Polisi yang bijaksana itu sempat membaca tulisan saya ini, dan tersampaikanlah penghargaan dan penghormatan saya kepada beliau. Mohon ma’af Pak… saya tidak sempat mengucapkan terima kasih, bahkan mengetahui nama Bapak saja tidak :(
Saya hanya bisa berdo’a semoga Allah SWT melimpahkan Berkah dan Rahmat-Nya kepada Bapak sekeluarga, dilapangkan rizky Bapak, dan dimudahkan segala urusan Bapak di dunia dan di akherat. Amin…

Advertisement

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TOLAK WINDOWS !!!

Windows 7 Sins

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.